MAKASSAR – Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI) Pusat Makassar bekerja sama dengan Lembaga Pelatihan Kerja Manajemen Pendidikan Islam (LPK-MPI) sukses menyelenggarakan Pelatihan Kepala Satuan Pendidikan Berbasis Kompetensi pada 27–30 Oktober 2026. Kegiatan intensif selama empat hari ini diikuti oleh 39 kepala satuan pendidikan dari jenjang PAUD, SD, SMP, SMA, hingga Pondok Pesantren atau sederajat, yang seluruhnya dinyatakan lulus 100 persen dan berhak menyandang Sertifikat Kompetensi resmi dari LPK-MPI.
Antusiasme dan komitmen pemerataan mutu pendidikan terlihat dari sebaran peserta yang hadir dari berbagai penjuru tanah air, membentang dari Indonesia Barat hingga Timur. Para peserta berasal dari 18 daerah, meliputi Cibinong (Bogor), Balikpapan, Kupang (NTT), Makassar, Gowa, Takalar, Bulukumba, Barru, Parepare, Soppeng, Luwu Utara, Palopo, Muna, Baubau, Kendari, Sigi, Palu, hingga Manokwari.
Gemblengan Dua Guru Besar dalam 13 Unit Kompetensi
Kelulusan penuh ke-39 peserta ini bukanlah proses yang instan. Selama empat hari pelatihan, peserta digembleng secara komprehensif untuk menguasai 13 Unit Kompetensi Kepala Satuan Pendidikan yang menjadi standar baku kepemimpinan pendidikan modern dan terukur.
Materi pelatihan dibawakan langsung oleh dua pakar manajemen pendidikan tingkat nasional yang juga merupakan Guru Besar dan Certified Trainer, yakni:
- Prof. Dr. H. Badrudin, M.Ag., CT, CIIQA, CEAM (Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung)
- Prof. Dr. Hj. Siti Patimah, S.Ag., M.Pd., CT (Guru Besar UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)
Kedua narasumber membedah secara mendalam aspek manajerial, supervisi akademik, kepemimpinan perubahan, pengelolaan sumber daya, hingga kewirausahaan sekolah melalui pendekatan konseptual dan praktik penyusunan instrumen kerja secara langsung.

Nilai Lebih Kepala Satuan Pendidikan Kompeten vs Belum Tersertifikasi
Dalam lanskap pendidikan saat ini, terdapat perbedaan kontras antara kepala satuan pendidikan yang telah teruji kompetensinya dibandingkan yang belum mengikuti pelatihan berbasis standar kompetensi.
Aspek Pengelolaan
Kepala Satuan Pendidikan Kompeten (Tersertifikasi)
Kepala Satuan Pendidikan Belum Tersertifikasi
Perencanaan & Kebijakan
Mengambil keputusan berbasis data (data-driven planning), analisis evaluasi diri sekolah, dan indikator kinerja yang terukur.
Cenderung bertumpu pada rutinitas tahunan, intuisi personal, atau sekadar meniru program terdahulu tanpa ukuran evaluasi yang tajam.
Penjaminan Mutu
Mampu mengintegrasikan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) secara sistematis dari perencanaan hingga tindak lanjut.
Pengelolaan mutu masih bersifat insidental, reaktif terhadap akreditasi, dan belum membudaya dalam keseharian sekolah.
Supervisi Akademik
Melakukan pembinaan guru secara klinis, terstruktur, dan berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran di kelas.
Supervisi sering kali hanya sebatas pemeriksaan administratif kelengkapan dokumen mengajar guru.
Inovasi & Kewirausahaan
Adaptif terhadap perubahan kurikulum, mampu membangun kemitraan strategis, dan mengoptimalkan kemandirian sumber daya lembaga.
Cenderung stagnan, bergantung penuh pada anggaran rutin, serta gagap menghadapi dinamika disrupsi pendidikan.
Langkah Selanjutnya Pascapelatihan
Gelar kelulusan dan sertifikat LPK-MPI yang diraih bukanlah garis akhir, melainkan titik tolak transformasi di daerah masing-masing. Terdapat tiga langkah konkret yang harus segera dieksekusi oleh para lulusan sekembalinya ke satuan pendidikan:
- Audit Mutu dan Pemetaan Ulang (Redesign): Melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program kerja sekolah menggunakan kerangka 13 unit kompetensi yang telah dipelajari untuk menemukan celah perbaikan.
- Deseminasi dan Penguatan Tim Internal: Menularkan visi kepemimpinan baru kepada jajaran wakil kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan agar terbangun budaya kerja kolaboratif yang berorientasi pada mutu.
- Persiapan Uji Sertifikasi BNSP & Implementasi Berkelanjutan: Mengaplikasikan portofolio hasil pelatihan ke dalam praktik nyata pengelolaan sekolah sekaligus mempersiapkan diri menuju tahapan asesmen lisensi profesi tingkat lanjut (seperti skema BNSP) serta pendampingan evaluasi berkala.

Harapan Ketua YPWI Pusat / Ketua LPYP
Ketua YPWI Pusat Makassar yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Pembinaan Yayasan Pendidikan (LPYP), Nursalam Siradjuddin, menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi seluruh peserta dan para pemateri. Beliau menegaskan bahwa kolaborasi dengan LPK-MPI ini merupakan langkah strategis untuk menstandardisasi kualitas kepemimpinan di seluruh jaringan lembaga pendidikan, baik di pusat maupun di daerah.
"Kepala satuan pendidikan adalah nakhoda utama penentu arah kemajuan sekolah dan pesantren. Kami tidak ingin lembaga pendidikan kita dikelola secara biasa-biasa saja atau sekadar berjalan menggugurkan kewajiban. Dengan dikuasainya 13 unit kompetensi ini, kami berharap ke-39 kepala satuan pendidikan dari 18 daerah ini pulang sebagai agen perubahan (agent of change) yang mampu menghadirkan tata kelola sekolah yang unggul, akuntabel, dan berdaya saing tinggi," ujar Nursalam Siradjuddin.
Lebih lanjut, beliau berharap agar para lulusan mampu menyelaraskan keunggulan manajerial modern dengan penguatan karakter dan nilai-nilai keislaman di satuan pendidikan masing-masing. Melalui pemimpin pendidikan yang kompeten, diharapkan lahir ekosistem sekolah dan pondok pesantren yang tidak hanya tertib secara administrasi dan unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga menjadi rujukan mutu pendidikan di tingkat regional maupun nasional.