DIDIKLAH ANAKMU DENGAN HIKMAH!

DIDIKLAH ANAKMU DENGAN HIKMAH!

Refleksi Qur’an Surat Lukman, ayat 12 – 19.

Apakah anda mempunyai masalah?
Baik masalah pribadi, keluarga, masyarakat, negara, dan masalah ummat?
Maka solusinya pasti ada dalam al-Qur’an dan Petunjuk Nabi Muhammad Shalalahu ‘Alaihi wa Sallam dalam Sunnah/Hadisnya.

Anda merasa kesulitan dalam mendidik anak?
Maka mutiara-mutiara wasiat Luqman al-Hakim kepada anaknya merupakan pegangan.

Mari berkenalan dengan Lukman al-Hakim!
Lukman al-Hakim hidup sezaman dengan Nabi Dawud ‘Alaihissalam. Tidak ada keistimewaan dari segi Fisik Lukman al-Hakim, karena memang dia adalah orang Afrika, umumnya berkulit hitam legam. Namun Allah Ta’ala tidak mengistimewakan dan memuliakan seseorang seseorang dengan fisik/penampilan, harta, dan jabatan, tapi Allah Ta’ala melihat hati, amalan shalih, dan ketakwaan hambaNya. Itulah Lukman al-Hakim yang dikaruniai oleh Allah Ta’ala HIKMAH…
Wa man yuta Hikmah faqad utiya khairan katsira (barang siapa dikaruniakan hikmah, maka telah dikarunia kebaikan yang banyak).

Apa itu HIKMAH?
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah dalam Kitabnya “Madariju al-Salikin” menyebutkan definisi sekaligus Rukun sesuatu itu dinamakan HIKMAH;
1. Fi’lu Maa Yanbagi ( prilaku amalan baik nan pantas dilakukan )
2. Kamaa Yanbagi (dengan cara yang pantas)
3. Fil-Waqti al-Ladzi Yanbagi (di waktu yang pas/cocok dan tepat)
Hikmah adalah prilaku amalan baik nan pantas dilakukan, dengan cara sepantasnya, dan pada waktu yang pas/cocok/tepat dilakukan.
Hikmah adalah saudara kembar Keadilan (menempatkan sesuatu pada tempatnya yang semestinya).

Contoh Kasus yang tidak HIKMAH:

Kasus I (Cara mendidik anak yang tidak Hikmah)

Menyuruh Shalat anak-anak dengan cara yang tidak pantas:
a. Anak usia 7 tahun disuruh salat, kemudian tidak mau, dan kemudian dicambuk sampai berdarah. (hikmah/bijak: tidak dipukul usia 7 sd 9 tahun)
b. Anak usia 10 tahun disuruh salat, kemudian tidak mau, dan kemudian tidak dipukul alasan kasihan. (hikmah/bijak: dengan pukulan pendidikan yang tidak melukai)

Mari kita bersyukur kepada Allah Ta’ala dan Kepada Orangtua kita (‘Anisykurli wali Waalidaika) yang telah mendidik kita dengan pukulan tersebut, karena berapa banyak orang bahkan yang sampai tuarenta tidak salat karena waktu kecil tidak pernah dididik dengan ‘pukulan’ orangtunya.

Kasus II (Waktu/Momen mendidik anak yang tidak Hikmah)

  • Anak usia 10 tahun disuruh salat, kemudian tidak mau, dan kemudian dipukul dengan pukulan pendidikan yang tidak melaukai, tapi dipukul di tengah/depan keramian orang banyak. (hikmah/bijak: salat adalah ibadah individu maka hendaknya pendidikannya di dalam rumah atau dengan pendekatan individu).
  • Kecuali permasalahan yang berkaitan dengan kesalahan yang ada kaitannya dengan kepentingan umum/orang lain, seperti teguran Rasulullah kepada sahabat yang menerobos masuk ke dalam majelis, dan teguran Rasulullah kepada sahabat yang memanjangkan shalat yang bukan pada momen yang tepat.

Pendidikan HIKMAH Wasiat Lukman al-Hakim rahimahullah:

  1. Latihlah anak sejak dini untuk Bertauhid “Ya bunayya…La tusyrik billah inna syirka ladzulmun ‘adzim” (uslub iqna’): Anandaku janganlah berbuat syirik menyekutukan Allah, karena syirik menyekutukan Allah adalah kedzoliman yang sangan besar nan dahsyat.
    Pelajaran:
    Kemunkaran wajib dilarang walaupun pelakunya tidak/belum berdosa;

    • Belum berdosa: Hasan memakan kurma sedekah (waktu itu masih balita, belum mukalaf dan baligh).
      Rasulullah mengatakan: “Oa…Oa..(Muntahkanlah!)…kita tidak memakan harta sedekah!”.
      Kepada anak/balita mesti dijelaskan munkar alasannya/dalilnya meskipun belum faham (usaha pemahaman dan memahamkan), meskipun tidak bertanya apa alasan/dalilnya.
      Tapi Jangan terapkan pendidikan militer dikeluarga! (tdk ada tanya jawab, diam dan ikuti!).
    • Tidak berdosa: Lupa makan/minum dalam majelis ilmu ketika siang hari Ramadhan (ditegur dan jangan dibiarkan).
  2. Latihlah anak sejak dini untuk muraqabah/merasa dibawah pengawasan Allah Ta’ala, Jangan katakan: “saya sendirian”, tapi katakanlah: “saya ada yang mengawasi”. Malulah kepada Allah Ta’ala!.
  3. Latihlah anak sejak dini untuk Birrul Wailidain (berbakti kepada orangtua)
  4. Latihlah anak sejak dini untuk mendirikan Shalat 5 waktu
  5. Latihlah anak sejak dini untuk Amar Makruf dan Nahyi Munkar (memerintahkan kebaikan dan melarang kemunkaran)
  6. Latihlah anak sejak dini untuk Sabar akan musibah, utamanya ketika berdakwah
  7. Latihlah anak sejak dini untuk tidak sombong, baik dalam sikap, prilaku, dan suara/cara bicara
  8. Kata Larangan dan Kata suruhan yang hikmah/bijak bagian dari pendidikan Islam dan Al-Qur’an
  9. Tidak boleh fasilitasi anak dengan TV, NET, YOUTUBE (‘murabbi OL’) tanpa arahan, pengawasan, dan tuntunan
  10. Mari adil dalam memfasilitasi anak-anak, selain mainan, makanan, minuman yang dibelikan dan lengkapi, maka fasilitasi pula anak-anak untuk kenal pengajian, kenal mushaf, kenal hijab, kenal ulama dan bukunya, kenal masjid dll
  11. Perintahkan anak berbakti kepada orang tua dan bukan sebaliknya, karena orang tua tidak disuruh juga sudah sebgai fitrah awal/asal menyayangi dan memperhatikan anaknya.
  12. Doakanlah selalu kebaikan bagi anak-anak agar menjadi anak soleh dan anak solehah (baik dunia akhiratnya), dan JANGAN sekali-kali mendokan kejelekan/laknat bagi anak kita
  13. Panggil dengan panggilan lembut, doa dan istimewa (ya bunayya…anandaku, putriku, sayangku, kakak/adik hebat, anak soleh dll).

Wallahu ‘Alam.

Ringkasan Ta’lim Duha Bersama Ust. Muh. Yusran Ansar Hafidzahullah di Masjid Anas bin Malik STIBA Makassar

Sabtu, 22 Ramadhan 1438 H
Akhukum wa Muhibbukum Fillah,

Ahmad Syaripudin bin Kocim.