Membangun Keluarga Sakinah

Membangun Keluarga Sakinah

Secara bahasa, kata sakinah berasal dari kata as sukun dan kata as sakan. As Sukun artinya berkisar seputar ketenangan, keteduhan,dan ketentraman. Sedangkan as sakan artinya tempat tinggal yang membuat seseorang merasa tenteram ketika pulang ke tempat tinggalnya tersebut. Dari dua istilah tersebut maka lahirlah makna As Sakinah secara epistemologi yaitu ketentraman atau kebahagiaan.

Ada juga yang berpendapat bahwa kata sakinah masih satu akar kata dengan kata sikkiin yang artinya pisau. Pisau disebut sikkiin karena membuat tenang binatang dengan cara disembelih saat sebelumnya bergolak.

Keluarga yang sakinah sakinah biasa digunakan untuk mengistilahkan keluarga yang bahagia dan penuh cinta. Kata as sakinah secara umum sudah merangkum dua istilah yang Allah sebutkan dalam Surat Ar Rum. Yaitu kata mawaddah dan rahmah yang Allah sebutkan setelah kata sakinah.

Istilah keluarga sakinah dianggap lebih sempurna jika dibandingkan hanya menyebut “keluarga Islami”. Karena jika yang dimaksud keluarga Islami adalah keluarga yang yang rajin beribadah dan komitmen dengan nilai-nilai keislaman, ini belum cukup.

Keluarga sakinah, selain menerapkan nilai-nilai ajaran Islam juga penuh cinta dan kasih sayang. Bukan keluarga yang “garing” meskipun rajin beribadah.Tanpa adanya sakinah, mawaddah, dan sifat rahmah belum tentu kebahagiaan benar-benar bisa mereka raih.

Allah berfirman dalam Al Qur’an

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Litaskunu ilaiha

Litaskunu ilaiha artinya agar engkau merasa tenteram ketika bersamanya. Pasangan adalah sumber ketenteraman, baik suami terhadap istri maupun sebaliknya. Suami merasa tenang dan tenteram saat pulang ke rumah bertemu dengan istrinya, serta sebaliknya.Ini berlaku bagi suami-istri, pasangan yang sudah halal. Bukan pasangan yang belum halal, meskipun secara zhahir terlihat bahagia.

Mawaddah wa rahmah

Kata mawaddah dan kata rahmah, dalam bahasa Indonesia artinya berdekatan. Terkadang mawaddah diartikan sebagai cinta sedangkan rahmah diartikan sebagai kasih sayang.

Namun sebagian mengartikan bahwa mawaddah adalah perasaan cinta pada saat suami istri berada di usia yang relatif muda. Sedangkan “rahmah” adalah perasaan cinta yang dirasakan pada saat pasangan berada di usia yang relatif tua.

Untuk mewujudkan keluarga sakinah harus terpenuhi beberapa prasyarat.

Pertama, rumah tangga yang dibangun harus dilandasi dengan iman. Iman ibarat angka satu dan yang lain adalah angka nol. Sebuah bilangan, jika yang di depan angka satu maka berapapun nol yang ada dibelakangnya akan semakin membuatnya bernilai.

Iman harus dijadikan landasan, beserta segala konsekuensinya. Seseorang yang mengimani Allah sebagai Rabb, konsekuensinya dia harus menjadikan Allah sebagai satu-satunya dzat yang yang disembah. Konsekuensi berikutnya kita harus laksanakan segala perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya.

Iman diwujudkan dalam berbagai bentuk ibadah turunannya. Selain mentauhidkan Allah, iman juga menjadikan sang hamba ta’at beribadah serta berakhlaq mulia. Ibadah adalah hubungan dengan Sang Pencipta, sedangkan akhlaq adalah hubungan dengan sesame.

Sebagai contoh, wanita yang tidak mengenakan jilbab berarti berkurang kadar imannya. Karena berjilbab adalah perintah Allah. Seseorang yang benar keimanannya, maka dia akan mematuhi perintah-Nya, termasuk dalam hal berjilbab.

Jadi, urusan berjilbab atau tidak berjilbab akan terkait erat dengan keimanan. Kepatuhan seseorang kepada Allah selalu berbanding lurus dengan kadar imannya. Seseorang tidak bisa beralasan tidak mengenakan jilbab karena merasa akhlaqnya belum bagus. Jilbab bukan urusan akhlaq sudah atau belum, namun jilbab adalah perintah Allah yang harus dilaksanakan.

Yang kedua, keluarga sakinah adalah keluarga yang di dalamnya ada cinta. Cinta adalah hal yang mutlak harus ada. Setelah itu perlu dipupuk dan dirawat. Berapapun usia pernikahan seseorang.

Terkait cinta ini, maka dalam syari’at ada salah satu bagian dari proses ta’aruf yang namanya nazhor. Nazhor artinya melihat calon istri sebelum melamar. Tujuannya adalah agar tumbuh rasa cinta di awal jika hal itu menjadi daya tarik.

Cinta adalah sesuatu yang susah untuk didefinisikan, tapi bisa diketahui ciri-cirinya. Diantara ciri adanya cinta adalah adanya perhatian. Suami yang mencintai istrinya akan selalu perhatian. Ketika istri pakaian tertentu, atau memasak masakan tertentu kemudian sang suami menanyakan tentang pakaian dan masakannya. Ini adalah contoh bentuk perhatian. Bukan cuek saja.

Ciri berikutnya yang menandakan adanya rasa cinta adalah adanya rasa rindu. Suami yang cinta terhadap istrinya akan selalu merasa rindu. Bahkan jika sehari saja tidak bertemu.jam pulang dari kantor langsung pulang ke rumah ingin segera bertemu,bukan malah mencari tempat nongkrong. Untuk memupuk rasa cinta ini perlu kita perhatikan kebersamaan. Secara kuantitatif, perbanyak waktu kebersamaan dengan keluarga. Perlu meluangkan waktu khusus. Jangan sampai rumah hanya jadi hotel saja, sekedar untuk singgah tidur.

Meskipun sedang dipisahkan jarak, tetap jaga ketersambungan. Sekedar menyapa istri pakai whatsapp akan menjaga ketersambungan dan memupuk rasa cinta.

Secara kualitatif, kebersamaan juga perlu diperhatikan. Jangan sampai kebersamaan kita sepertinya banyak, namun tidak berkualitas. Usahakan tidak mengobrol bersama keluarga sambil sibuk dengan gadget. Kualitas kebersamaan akan berkurang jika kita bersama keluarga namun pikiran kita disibukkan oleh gadget dan media sosial.

Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah komunikasi.
Keluarga yang penuh ketenteraman, cinta, dan kasih sayang tidak akan terbangun tanpa komunikasi yang terjalin dengan baik. Komunikasi lah yang bisa menyempurnakan itu semua. Bukan sekedar harta dan fasilitas mewah yang ada di rumah kita.

Islam mengajarkan betapa pentingnya komunikasi. Rasulullah mengajarkan mulai dari menebarkan salam, yang kata beliau akan menumbuhkan rasa cinta sesama kita. Terlebih komunikasi antara suami dengan istri dan sebaliknya.

Rasulullah sangat memperhatikan komunikasi dengan keluarga beliau. Beliau gunakan pilihan kata yang baik dan panggilan-panggilan yang menyenangkan kepada istri-istri beliau. Ini menandakan beliau tetap menjaga romantisme melalui pola komunikasi, bahkan ketika usia beliau tidak muda lagi. Tidak ada salahnya kita memanggil istri kita dengan panggilan khusus kesayangan dan itulah diantara sunnah Nabi kita صلى الله عليه وسلم,beliau memanggil istri beliau Aisyah dengan humaira’ yang artinya yang pipinya selalu kemerahan.

Secara khusus bagi suami yang seharian bekerja di luar rumah, sangat penting untuk mendengarkan istri di rumah. Secara khusus seorang istri lebih banyak berbicara dari pada para suami. Maka para suami perlu perhatian dan meluangkan waktu untuk mengobrol dengan istri yang seharian berada di rumah.

Keempat, ciptakan suasana rumah yang baik, bersih, dan rapi.
Rumah yang rapi dan bersih meskipun sederhana, akan membuat penghuninya merasa nyaman dan betah di rumah. Dengan rasa nyaman saat berada di rumah, akan menambah kualitas kebersamaan sesama anggota keluarga. Tentu hal ini akan menambah sempurna sakinah, mawaddah, dan rahmah dalam keluarga kita.

Jika anak kita sering keluar dan seakan tidak betah dirumah,begitu pula mungkin suami kita maka diantara yang perku segera kita check adalah kebersiahan dan kerapian rumah kita,sebab fitrah manusia menyukai keindahan,dan keindahan tidak dapat terwujud tanpa terjaga kebersihan dan kerapian.
Semoga dengan ke empat hal ini baiti jannati, rumahku surgaku dapat kita wujudkan.


=================
Muhammad Zaitun Rasmin
Disampaikan pada Kajian rutin di PT. PII, rabu 14 Juni 2017