Ramadhan Sebagai Madrasah Pembentukan Karakter Seorang Mukmin

Ramadhan Sebagai Madrasah Pembentukan Karakter Seorang Mukmin

Puasa Ramadhan yang Allah syari’atkan sejak tahun kedua hijriyah mengandung banyak makna dan nilai. Sebuah latihan panjang untuk membentuk pribadi-pribadi dengan karakter mulia. Karakter-karakter agung yang terangkum dalam satu kata, Muttaqin.

Bulan Ramadhan adalah momentum bagi seorang hamba untuk ber-taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah) serta sebagai ladang pahala yang sebesar-besarnya. Bulan Ramadhan ibarat bazaar dengan diskon harga yang sangat besar. Sayang sekali jika dilewatkan. Bulan dimana Allah mudahkan banyak ibadah dan Allah janjikan ampunan serta pahala yang besar.

Seorang mukmin diharapkan berubah ke arah yang lebih baik setelah melewati bulan Ramadhan. Perubahan menjadi pribadi yang bertaqwa, yang akan mewarnai sebelas bulan berikutnya hingga ia kembali bertemu Ramadhan biidznillah.

Berbicara tentang pendidikan karakter, jelas sekali Allah tekankan dalam ayat puasa. Ketaqwaan sebagai tujuan akhir dari proses pembinaan (tarbiyah) ini mewakili seluruh sifat-sifat positif dan istimewa bagi seorang mukmin.
Diantara karakter-karakter positif tersebut adalah sebagai berikut:

1. Puasa Ramadhan Bisa Membentuk Karakter Seorang Mukmin Menjadi ‘Abid (Ahli Ibadah)
Jelas sekali di dalam bulan Ramadhan Allah buat kita ringan beribadah. Kita bisa melihat bagaimana secara umum semangat beribadah masyarakat meningkat. Selain ibadah puasa juga shalat sunnah, tadarrus, sedekah, i’tikaf, dll.
Bagi manusia yang berstatus sebagai hamba Allah, ibadah merupakan jati diri. Untuk tujuan inilah kita diciptakan. Artinya, pada saat seorang hamba kembali rajin beribadah, berarti dia telah kembali kepada fitrahnya. Inilah yang menjadi tugas utama kita di muka bumi.

Selain itu, ibadah akan berdampak sangat positif dalam kehidupan seseorang. Ibadah sebagai fondasi, akan melahirkan jiwa-jiwa pejuang, karakter gigih dan tidak mudah menyerah. Oleh karena itulah Allah perintahkan Rasulullah dengan ibadah-ibadah mahdhah seperti shalat malam dan yang lainnya, sebelum turun perintah berdakwah. Sebagaimana yang Allah isyaratkan di surat Al Muzzammil.

2. Puasa Ramadhan Akan Membentuk Jiwa yang Bersih

Dalam diri manusia terdapat beberapa unsur, termasuk yang disebut sebagai unsur hewani. Hal yang sama seperti yang dilakukan binatang dari sisi pemenuhan kebutuhan makan dan minum serta naluri mempertahankan keturunan.
Yang membedakan manusia dengan binatang adalah anugerah Allah berupa akal dan hati. Manusia juga dilahirkan dalam keadaan membawa fithrah yang suci.

Seiring perjalanan waktu, bisa jadi yang menguat adalah unsur-unsur hewani. Akibatnya fithrah, hati, dan akal terkalahkan dan tidak berjalan sesuai fungsinya.

Jika yang terjadi seperti ini, maka manusia dikatakan kehilangan orientasi. Hidupnya menjadi tidak berbeda dengan binatang. Hidupnya hanya untuk mempertahankan diri dengan makan dan minum.
Ini yang Allah isyaratkan dalam Al Qur’an:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ

…dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka.” (QS Muhammad 47:12)

Puasa dan ibadah-ibadah lainnya secara umum di bulan Ramadhan berfungsi untuk membersihkan jiwa. Sehingga fungsi akal dan hati menjadi lebih kuat dan bisa mengendalikan hawa nafsu. Dengan seperti ini hati menjadi bersih dan hidup jika di saat yang bersamaan disinari dengan cahaya wahyu.
Wahyu dan akal yang sehat ini akan membawa kita kepada pribadi yg agung. Jauh dari yang syubhat apalagi haram. Dengan demikian kondisi seseorang kembali sesuai fithrah yang ditetapkan oleh Rabbul ‘alamin.

3. Puasa Ramadhan Akan Membentuk Pribadi yang Santun

Santun dalam tutur kata maupun sikap dalam pergaulan. Termasuk santun saat menghadapi masalah. Sifat inilah yang disebut dengan “haliim”. Sifat mulia yang Allah sebutkan banyak nabi dengan sifat ini.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan akhlaq khusus bagi orang yang sedang berpuasa:

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Maka apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan puasa, maka janganlah dia berkata rafats (kotor) dan jangan pula bertengkar sambil berteriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan ‘Aku orang yang sedang puasa.

Rasulullah melarang orang yang berpuasa untuk berbicara rafats, yaitu perkataan yang berbau porno atau mengundang syahwat. Beliau ajarkan agar selain menjaga syahwat perut, juga syahwat lisan. Bahkan beliau ajarkan agar kita untuk menahan dan menegendalikan diri pada saat ada yang mencela.

Rasulullah ajarkan melalui puasa ini, untuk bisa mengendalikan emosi sehingga tidak reaktif. Tindakan reaktif biasanya menimbulkan dampak kerugian dan penyesalan di akhir. Jangan sampai hal-hal remeh temeh menyulut perselisihan di antara kita dan pada akhirnya merusak ukhuwah.
Rusaknya ukhuwah hanya akan membuat umat Islam mengorbankan cita-cita besar yang sedang diperjuangkan.

4. Puasa Ramadhan Bisa Membentuk Pribadi yang Jujur.

Bagi orang yang puasanya benar, dia akan terlatih untuk jujur. Puasa melatih seseorang untuk menyamakan tindakan pada saat dilihat orang maupun tidak.
Puasa akan mengasah sifat muraqabah (merasa diawasi), yakin bahwa Allah Maha Melihat. Sehingga seseorang bisa tetap jujur, diawasi maupun tidak.
Orang jujur seperti ini sangat diperlukan dalam masyarakat kita. Orang seperti inilah yang dulu mendapatkan apresiasi dari amirul mu’minin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Yaitu kisah penjual susu yang tidak mau mencampur dengan air meskipun Umar tidak tahu.

Wanita ini tetap jujur karena merasa diawasi oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Pada akhirnya Umar menikahkan dengan salah satu putranya, dan dari wanita inilah kelak dilahirkan khalifah rasyidah yang kelima, yaitu Umar bin ‘Abdul Aziz rahimahullah.

5. Puasa Ramadhan Akan Membentuk Pribadi yang Sabar.

Puasa akan melatih kesabaran seseorang. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa istimewanya balasan puasa adalah karena inti puasa adalah kesabaran. Dan Allah menjanjikan pahala “bighairi hisaab”, tanpa batas, bagi orang yang bersabar.

Puasa mengajarkan kita memiliki sifat sabar dengan berbagai bentuknya. Yaitu sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam mengerjakan ibadah, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam berinteraksi dengan sesama manusia.
Ramadhan sendiri secara harfiah artinya adalah sesuatu yang berat atau susah. Berasal dari kata ar ramdha, yaitu kondisi beratnya padang pasir.

Kesabaran, kata Rasulullah adalah “Kanzun laa yafnaa”. Suatu perbendaharaan yang tidak akan musnah. Kesabaran adalah bekal yang diperlukan seorang mukmin dalam menempuh perjalanan mendekat menuju Rabbnya. Kita membutuhkannya sampai kelak kita bertemu Allah subhanahu wa ta’ala.

Jika ada yang mengatakan sabar itu ada batasnya, maka mulai sekarang mari kita belajar untuk tidak membatasi kesabaran. Karena kesabaran adalah kunci kemenangan di segala medan.

6. Puasa Ramadhan Bisa Membentuk Pribadi yang Penyayang.

Dalam puasa Ramadhan, kita diajarkan untuk mengasah kepekaan sosial, berempati kepada mereka yang tidak mampu. Kita dilatih untuk peka, bahwa di luar sana ada saudara-saudara kita yang tidak bisa makan 3 kali sehari.

Termasuk hal ini juga, adanya syariat zakat fithri di akhir bulan Ramadhan. Kita dilatih untuk bisa berbagi. Latihan ini bahkan hukumnya wajib bagi yang memiliki kelebihan harta yang cukup untuk makan sehari semalam.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mengajarkan kedermawanan yang luar biasa di bulan Ramadhan. Digambarkan dalam hadits, kedermawanan beliau melebihi ringannya angin yang berhembus.

Termasuk anjuran memberi makan orang yang berpuasa. Allah menjanjikan dengan pahala yang sama seperti orang yang berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang diberi. Ini semua latihan yang Allah sediakan di bulan Ramadhan, agar umat ini menjadi umat yang memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi.

7. Puasa Ramadhan Membentuk Karakter Mujahid (Pejuang, Gigih, Pantang Menyerah).

Di awal Islam, justru Perang Badar terjadi di bulan Ramadhan. Umat Islam diajarkan bahwa puasa bukan penghalang produktivitas. Bahkan justru Allah berikan banyak kemenangan pada saat bulan Ramadhan.

8. Puasa Ramadhan Bisa Membangun Muslim yang Visioner.

Wa lish shaaimi farhataani. Dan bagi orang yang berpuasa maka dia akan mendapatkan dua kebahagiaan. Yaitu pada saat berbuka dan pada saat bertemu Allah ‘azza wa jalla.
Hadits ini mengajarkan agar setiap muslim memiliki pandangan jauh ke depan. Ada yang akan di raih di waktu yang dekat, dan ada pula yang Allah janjikan di kejauhan sana, yaitu di akhirat.
“Kegembiraan saat berbuka” adalah bentuk penyederhanaan kesenangan saat kaum muslimin mendapatkan mendapatkan kemenanga-kemenangan di dunia. Sedangkan di akhirat nanti Allah juga janjikan kebahagiaan yang lebih sempurna dan kekal.

Janji Allah seperti ini akan memompa semangat perjuangan bagi kaum muslimin yang yakin. Yakin bahwa janji Allah pasti benar dan yakin bahwa Allah pasti menolong hambanya yang mau berjuang.

==================
Muhammad Zaitun Rasmin
Disampaikan pada kajian dhuhur di PT.Taspen Selasa 13 Juni 2017